Life is A Journey

Loading...

Kamis, 25 Agustus 2011

First Edited

"old memories" Vignetting #2 dengan Efek Film Rendah.  Lokasi: Kuta, Badung, Bali
"a livelihood" Baru belajar edit poto hasil olahan dari photoscape :) #lokasi: Teluk Semaka, Lampung


"best pals" Efek film sinema tengah, bicubic dengan koreksi cahaya latar 125% #lokasi: Tangerang, Banten




"to be dusk" Masih efek film pake sinema tengah hanya frame nya saja dirubah menjadi Cali 09 #Lokasi : Kota Agung, Lampung
"hold me" Efek Film Provia Tengah, Vignetting #1, Kontras Otomatis Rendah #Lokasi: Teluk Penyu, Bali Selatan
" a silent of temple" Efek Film Portra Tinggi dengan Vignetting #3 dan Sharpeness +1, Lokasi Candi Borobudur ke arah Bukit Menoreh, Magelang, Jawa Tengah
"a beautiful of togetherness" Ini foto terbaik yang saya dapat, hasil jepretan teman saya Mas Anto yang sekarang dinas di Ternate, moment diambil dengan DSLR Canon EOS 350D, hanya saya frame kan Cali 09. Lokasi: Pantai Depok Parangtritis, Yogyakarta :)
"a holiday smiling" Dengan Vignetting #2 dan Koreksi Cahaya Latar +50%Lokasi: Uluwatu, Bali


"what a beautiful of Allah SWT created" Subhanallah.  Dengan Vignetting #4, kedalaman gambar rendah.  Lokasi: Uluwatu, Bali


"wait the twilight", Dengan Efek Film Provia Tengah, Koreksi Cahaya Latar +50%, Ketajama +3.  Lokasi: Kuta, Badung, Bali

" a best achievement" Dengan Vignetting #3 dengan Kedalaman Tengah.  Lokasi: Gatot Subroto, Jakarta


" let's guess the weight of gold". Efek Film Provia Tengah, Vignetting #5 dengan Kontras +2 dan Kedalaman Tengah.  Lokasi: Monumen Nasional, Jakarta

"what a high plateu", Dengan Efek Film Provia Tengah, Kegelapan Rendah dan Kedalaman Tengah.  Lokasi: Dieng Plateu, Wonosobo.

"the face" Dengan Vignetting #2 dan Koreksi Cahaya Latar +50%.  Lokasi Editan Foto: Bandar Lampung
"faithful accros the strait".  Dengan Koreksi Cahaya Latar +50% dan Kekontrasan +2.  Lokasi: Pelabuhan Merak, Banten

Kamis, 11 Agustus 2011

Meretas senja dengan cinta yang selalu fajar





 
Mbah..begitu saya memanggil kedua perempuan tangguh dan berjiwa besar ini, mulai dari saya baru bisa berbicara sampai saat ini, "Mbah", sebutan yang tak pernah berubah, walau di sekolah saya mendapati kata ganti "Nenek" untuk pengganti sebutan sayang saya, ataupun kata "Eyang Putri" yang sebegitu sering mampir ke telinga, namun saya nyaman dengan sebutan yang di ajarkan orangtua saya untuk Ayah dan Ibu mereka.  "Mbah".  Begitu dekat, begitu akrab, tanpa gap.  

Saat saya diklat di Yogya tiga bulan, saya sempatkan mengunjungi kedua Mbah saya, kedua perempuan yang kini sudah tidak hidup bersama Mbah Lanang saya.

Debel Istijah, begitu nama Mbah Putri saya dari Bapak.  Nama yang termasuk bagus di tahun kelahiran 1920. Beliau lahir, besar dan merenda hari sampai usianya sekarang di Dusun Grogol, Dukuh IX Parangtritis, Bantul.  Melahirkan keenam putra-putrinya di rumah yang sama, merawat dan membesarkan anak-anak tercintanya di rumah yang sama, melepas kepergian merantau anak-anaknya dari beranda rumah yang sama dan menyambut anak-anak dan cucu-cucunya saat rumahnya kembali ramai menjelang Idul Fitri atau hari bahagia lainnya juga rumah tempatnya melarut duka beberapa saat ketika suaminya dan anaknya berpulang ke Rahmatullah dan di makamkan di Dusun Grogol. 

Begitu Pula Mbah Putri saya dari Mama, perempuan yang sampai saat ini masih menekuni pekerjaannya membuat tempe di Dusun Pujodadi, Kebumen adalah perempuan tangguh dan tabah.  Setiap kali makan tempe, saya jadi teringat tempe buatan Mbah saya ini..tempe buatannya punya rasa yang khas, kedelainya di rebus dan di tanak dengan tungku batu berbahan bakar kayu, ranting dan klaras (daun kelapa kering), bungkusnya pun dengan daun pisang dan ditali dengan tali yang terbuat dari batang padi yang sudah menguning.  ahh, betapa banyak hal menyenangkan saat mengunjungi mereka berdua, pun ketika saya datang ketika kanak-kanak maupun saat ini, saat datang mengunjungi mereka berdua dalam sendiri saya.  Betapa banyak yang bisa saya ambil dari kedua perempuan tangguh ini.  Tentang makna hidup, tentang kesederhanaan, tentang hati yang selalu menerima, tentang setia, tentang selalu merasa cukup, tentang sabar dan penantian, tentang selalu merasa tenang dan bahagia, tentang senyum yang tak pernah habis, tentang pengharapan yang tak pernah putus, tentang kesigapannya meramu bahan dan menghadirkan makanan terenak yang dimasak dengan cinta, untuk orang-orang tercinta mereka.  Dua perempuan ini, kini hidup dalam sendiri, di tenangnya pesisir Yogya selatan dan di hangatnya pedesaan Kebumen, dalam rumah yang sama, dengan kenangan yang sama.  Bersama suaminya dalam kemesraan, bersama anak-anaknya dalam gelak canda dan cerewet kekhawatiran khas ibu-ibu.

Dua perempuan tangguh ini, adalah salah satu alasan bagi saya untuk pulang, juga dua peristirahatan terakhir anak-anak mereka.  ahh, betapa saya dapat sangat jelas melihat sosok Bapak dan Mama saya dari kedua perempuan tangguh ini.  Dari tiap lekuk dan kontur wajah mereka, dari caranya berbicara dan mengutarakan sesuatu.  Semoga Allah senantiasa merahmati Mbah Putri saya, senantiasa melimpahinya kesabaran dan pahala atas kebaikan selama ini. Semoga kedua perempuan ini senantiasa merasa bahagia dalam sisa hidupnya.  Dan kebahagiaan yang lebih lagi di hidup setelah kehidupan dunianya kelak.  Aamiin ya Robbana.


Bahagia itu, disini.  Di hati kita, di pikiran kita. Bukan disana.


Teluk Betung Utara
menjelang malam